“Apa yang ada dibelakang kita dan apa yang ada di depan kita merupakan hal kecil dibanding dengan apa yang ada di dalam kita” (Wendell H.)
Dalam hidup ini, Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya. Seringkali kita beranggapan bahwa;
Orang lainlah yang selalu salah
Orang lainlah yang patut disalahkan
Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang seharusnya minta maaf
Orang lainlah yang bodoh
Orang lainlah yang malas
Orang lainlah yang tidak becus
Orang lainlah yang banyak tingkah
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran
Orang lainlah yang pantas dipecat
Dan masih banyak prasangka kita terhadap orang lain, walau sesungguhnya kita tak lebih baik dari mereka.
Padahal;
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih
Kita sendiri yang tidak tahu diri
Kita sendiri yang banyak salah
Kita sendiri yang banyak dosa
Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain, hanya karena perbedaan paradigma, perpedaan prinsip, perbedaan karakter dll.
Seandainya diantara kita mau memahami manajemen perbedaan yang mencakup dua hal mendasar: menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan. Sungguh semua hal tersebut tidak perlu terjadi, sehingga hidup kita akan lebih indah dan lebih bermakna.
Sayangnya;
Tidak semua orang menerima perbedaan, akibatnya implementasinya memerlukan usaha yang besar… walau sesungguhnya cukup sederhana.
Cobalah kita melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, cara berfikir yang berbeda, dan cara berperilaku berbeda. Maka reaksi yang kita lakukan juga akan berbeda.
Sebagai Contoh;
Di taman kota pada suatu minggu sore yang cerah, ada orang-orang yang sedang jalan-jalan sore, sebagian duduk-duduk di bangku taman dengan tenangnya, sebagian yang lain bersenda gurau bersama rekan-rekannya setelah seharian penuh mengelilingi kota, sebagian sedang istirahat, dan sebagian yang lain sedang menikmati kue di pinggir taman yang baru saja dibelinya. Tampak suasana tenang dan penuh keakraban.
Tiba-tiba tidak berapa lama kemudian, seorang anak kecil membawa alat musik seadanya mengamen walau dengan lagu orang dewasa yang tidak begitu dihafalnya, berdiri sambil merengek di depan kita seolah setengah memaksa untuk diberi uang.
Kadang kita bersikap acuh tak acuh kepada pengamen kecil itu, atau memberi uang sambil menggerutu “ah, paling-paling ada orang tuanya yang sedang menunggunya dari jauh”??!. Kadang juga kita memarahi sambil mengusirnya, tanpa berusaha untuk mengerti mengapa anak yang masih kecil seperti itu harus mengamen. Mungkin hal semacam inilah yang pertama muncul dalam pikiran kita.
Coba kita banyangkan, kalau saja kita tahu anak kecil itu sedang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sedangkan dia tidak ada sanak saudara yang dapat mengurusnya. Hingga ia terpaksa mengamen hanya untuk mencari makan, karena tak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengamen. Lalu bagaimana reaksi kita sekarang, masihkan berpikiran seperti itu. Jawabannya pasti tidak??!!!. Rasa iba, simpati akan menghiasi pikiran kita. Seolah-olah kita merasakan apa yang dirasakan oleh pengamen kecil tersebut. Pada akhirnya semuanya akan terlihat secara berbeda, dan reaksi kita terhadap mereka juga berbeda.
Banyak orang yang menilai orang lain salah, sebelum mengenalnya secara seksama. Padahal belum tentu juga kita jauh lebih baik dari mereka.